proposal penelitian rudi

assalamualaikum wr wb

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN MELON (Cucumis melo L.) PADA TANAH GAMBUT
PROPOSAL PRAKTEK LAPANG


Oleh :
RUDI HARTONO
NIM : 14.31.015773

UNIVERSITAS MUHAMMADIAH PALANGKARAYA
FAKULTAS PERTANIAN DAN KEHUTANAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
2017


DAFTAR ISI
HALAMAN
KATA PENGANTAR...................................................................................
DAFTAR ISI.................................................................................................
PENDEHULUAN           ..........................................................................................
Latar Belakang...............................................................................................
 Tujuan Penelitian..........................................................................................
 Hipotesis......................................................................................................
TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................
Botani Dan Morpologi Tanaman Melon.......................................................
 Syarat  Tumbuh............................................................................................
 Tanah Gambut....................................................................................
 Pupuk kandang kotoran sapi........................................................................
METODELOGI PENELITIAN....................................................................
 Tempat Dan Waktu......................................................................................
Bahan Dan Alat............................................................................................
Metode Penelitian........................................................................................
Pelaksanaan Penelitian................................................................................
Pengamatan.................................................................................................
Analisis Data................................................................................................


DAFTAR  LAMPIRAN

         BAGAN PERCOBAAN ...............................................................................
         JADWAL PERENCANAAN PELAKSANAAN PENELITIAN...................
         DESKRIPSI TANAMAN MELON ( Cucucmis Melo L) VARIETAS............
         PERHITUNGAN DOSIS KAPUR DOLOMIT DAN DOSIS PUPUK HAYATI PETROBIO PERTANAMAN..................................................



LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian
:
Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati Terhadap


Pertumbuhan dan Hasil  Tanaman Melon (Cucumis melo L.) pada Tanah Gambut
Nama
:
Rudi Hartono
NIM
:
14.31.015773
Program Studi
:
Agroteknologi
Menyetujui
Pembimbing I
Pembimbing II


NURUL HIDAYATI, S.P., M.P
FAHRUDDIN ARFIANTO, S.Pi.,M.Pd
Tanggal  :
Tanggal  :
Mengetahui
Universitas Muhammadiyah Palangkaraya
Fakultas Pertanian dan Kehutanan
Fakultas Pertanian dan Kehutanan
Program Studi Agroteknologi
Dekan,
Ketua,


SITI MAIMUNAH, S.Hut., M.P.
PIENYANI ROSAWANTI, S.P., M.Si.
NIDN. 1131017603
NIDN. 1123017601
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat,nikmat iman,ilmu dan kesehatan penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian lapang dengan judul '' Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati terhadap Petumbuhan dan Hasil Tanaman Melon (Cucucmis melo L)'' pada Tanah Gambut.
Penulisan proposal praktek lapang ini di ajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Program Studi Agroteknologi, Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.
Ucapan terima kasih, penulis sampaikan kepada Ibu Nurul Hidayati, S.P., M.P dan Bapak Fahruddin Arfianto, S.Pi., M.Pd selaku dosen pembimbing yang telah memberikan pengetahuan dan bimbingan kearah yang lebih baik  selama proses penulisan proposal ini hingga selesai.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal praktek lapang ini  terdapat banyak kekurangan,oleh karena itu kritik,saran dan masukan dari semua pihak sangat di harapkan.

                                                                        Palangkaraya

                                                                                                     Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  LATAR BELAKANG
Peranan produk hortikultura seperti buah dan sayuran dalam gizi makanan sehari-hari adalah sebagai sumber utama vitamin dan mineral, walaupun diperlukan dalam jumlah sedikit namun kontinuitas dan eksisitensi kedua sumber gizi pasti dibutuhkan dalam tubuh.  Tanaman melon (Cucumis melo L) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang perlu mendapat perhatian, selain harga jualnya relatif baik dan rasa yang banyak diminati konsumen secara umum sehingga prospek pasar untuk komoditas ini cukup baik sehingga pengembangannya layak untuk diperhatikan. Dengan peningkatan taraf hidup masyarakat di Indonesia maka kebutuhan akan pangan terutama bukan makanan pokok seperti buah dan sayuran akan meningkat pula. Melon yang dibudidayakan memiliki beragam jenis, di Indonesia ada beberapa seperti  Rocket, Action 434, dari berbagai jenis ini memiliki ciri khas yang berbeda seperti pada warna daging buah, aroma buah, kekasaran kulit dan terakhir adalah kadar kemanisan daging buah. Jenis yang disukai masih sangat tergantung  konsumennya. (Jurnal Sains dan Teknologi  Vol.2 No.2 Juni 2009)
 Daging buahnya tebal berwarna hijau kekuningan,  kadar gulanya tinggi, beraroma harum yang kuat, kulit buah yang halus seperti jala dan jenis ini tahan terhadap busuk buah, kapasitas per butir mencapai 2 kg. Kandungan zat gizi dalam 100 g dari bagian buah melon yang dapat dimakan adalah protein 0,6 g, kalsium 17 mg, thiamin 0,045 mg, vitamin A 2,4 IU, vitamin C 30 mg, vitamin B 0,045 mg, vitamin B2 0,065 mg, karbohidrat 6 mg, niasin 1 mg, riboflavin 0,065 mg, zat besi 0,4 mg, nikotianida 0,5 mg, air 93 ml serat 0,4 g dan 23 kalori.  Selain kandungan gizi yang begitu beragam, melon sering juga digunakan sebagai buah untuk terapi kesehatan ,karena mempunyai khasiat untuk membantu sistem pembuangan (karena serat yang tinggi),sebagai anti kanker, menurunkan resiko stroke dan penyakit jantung dan mencegah penggumbalan darah. Dengan mempertimbangkan perkembangan populasi kesejahteraan masyarakat dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan gizi maka akan tejadi peningkatan kebutuhan terhadap tanaman hortikultura, khususnya buah buahan. Salah satu komoditas buah buahan yang menjadi prioritas dan perlu mendapat perhatian adalah tanaman melon (Cucumis meloL.).Tanaman melon termasuk salah satu jenis tanaman buah-buahan semusim yang mempunyai arti penting bagi perkembangan sosial ekonomi khususnya dalam meningkatkan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat dan perluasan lapangan kerja.
Berdasarkan data  BPS Kalimantan Tengah untuk budidaya tanaman melon padatahun 2015 produksi tanaman melon adalah 417 kuintal. Sedangkan untuk kota Palangka Raya budidaya tanaman melon dengan luas lahan 3 hektar, produksi buah melon adalah 239 kuintal. (BPS Kalimantan Tengah, 2015).
Pada tahun 2016 produksi melon di Kalimantan Tengah mengalami peningkatan yaitu sebesar 3.521kuintal. Sedangkan di Kota Palangka Raya budidaya melon dengan luas 13 hektar, produksi melon sebesar 1654 kuintal. (BPS Kalimantan Tengah, 2016)
Melon saat ini berkembang sebagai komoditas agribisnis. Melon memiliki nilai ekonomi dan prospek yang cukup besar dalam pemasarannya namun memerlukan penanganan intensif dalam budidayannya. Komoditas ini diminati oleh masyarakat banyak dan mempunyai harga yang relatif tinggi baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Sampai saat ini untuk memenuhi kebutuhan akan melon untuk masyarakat kota palangka raya masih harus didatangkan  dari luar kota. Keadaan potensi lahan yang ada di kota palangka raya dan sekitarnya sangat memungkinkan untuk budidaya tanaman melon. Namun demikian, karena tanaman melon masih jenis tanaman yang relatif baru menyebabkan pengatahuan petani tentang teknik budidaya melon yang baik dan benar masih terbatas sehingga masih sangat sedikit petani yang mengusahakan tanaman melon. 
Wilayah kota palangka raya  di dominasi oleh lahan gambut.kendala pengembangan pertanian di lahan gambut  adalah produktivitas lahan yang rendah,unsur hara yang tersedia di lahan gambut sangat sedikit Pupuk hayati merupakan alternatif yang tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas tanah. Sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Pupuk hayati dapat memperbaiki struktur dan biologis tanah karena mampu mempercepat penguraian bahan organik tanah, sehingga mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman melon yang maksimal. Pupuk hayati ini tidak meracuni tanaman dan juga tidak mencemari lingkungan (Ramanta, 2008)Dilihat dari permasalahan tersebut diatas, maka penulis mengadakan penelitian budidaya melon pada tanah gambut, dengan perlakuan pupuk hayati petrobio.
1.2. TUJUAN PENELITIAN
 Tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk Mengetahui Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati (Petrobio) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil  Tanaman Melon Pada Tanah Gambut.
1.2.  HIPOTESIS
1.      Pemberian pupuk hayati petrobio berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon pada tanah gambut
2.      pemberian pupuk hayati petrobio dengan dosis yang berbeda akan menghasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman melon yang bebeda pula.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.            Klasifikasi Dan Morpologi Tanaman Melon
Tanaman melon termasuk dalam kelas tanaman biji berkeping dua.kedudukan tanaman melon dalam sistematika tumbuhan, diklasifikasikan  sebagai berikut :
                        Divisio                         : Spermatophyta
                        Sub-divisio                  : Angeospermai
                        Kelas                           : Dicotyledonae
                        Ordo                            : Cucuribitales
                        Familia                        : Cucurbitaceae
                        Genus                          : Cucumis
                        Spesies                        : Cucumis melo L.
Tanaman melon (Cucumis melo L)merupakan famili cucurbitaceae.Melon termasuk tanaman yang menghasilkan biji sehingga di masukan dalam tumbuhan berbiji (Spermatophyta).Biji melon tertutup oleh bakal buah,sehingga di masukan kedalam golongan tumbuhan berbiji tertutup(Angiospemae).Tanaman melon terdiri dari dua daun lembaga sehingga di masukan dalam tumbuhan berbiji belah(dikotil)dan tergolong dalam genera cucumis.
Tanaman melon (cucumis melo L), mirip dengan tanaman ketimun (cucumis sativus L),. Merupakan tanaman semusim, menjalar di tanah atau dapat dirambatkan pada turus bambu. Tanaman ini mempunyai banyak cabang, kira kira 15-20 cm.
Melon (Cucumis melo L.) tergolong ordo Cucurbitales suku Cucurbitaceae genus cucumis (Tjitrosoepomo, 2004). Sari dalam Rubatzky dan Yamaguchi (1999) menyatakan bahwa tanaman melon merupakan tanaman semusim (annual), herbacious, batang berbentuk segi lima tumpul dengan panjang 1,5 m-3 m, berbulu, bersulur tunggal, sebagian besar kultivar merambat dan lunak. Daun melon berbentuk bulat bersudut dengan diameter 8 cm – 15 cm, memiliki 5 – 7 lengkungan yang dangkal dan permukaan daunya berbulu.
Sistem perakaran termasuk akar tunggang dengan ujung akar yang mampu menembus tanah sedalam 1 m ( Sari dalam Siemonsma dan Piulek, 1994 ), sari dalam Ashari (2006) menyatakan tanaman melon bersifat polimorfit, yang memiliki bunga jantan, betina dan hermafrodit. Sistem pembungaan pada tanaman melon termasuk monoecious (berumah atau berkelamin tunggal) atau andromonoecious (satu tanaman menghasilkan bunga jantan dan hermafrodit). Sari dalam Siemonsma dan pliuek (1994), menyatakan bunga jantan terbentuk pada ketiak daun, sedangkan bunga hermafrodit tumbuh pada cabang lanteral.




2.2.            Syarat Tumbuh
Tanaman melon memerlukan curah hujan antara 2000- 3000 mm/tahun. Ketinggian tempat tempat yang optimal adalah 200-900 m dpl. Namun, tanamn melon masih dapat berproduksi dengan baik pada ketinggian 0-100 m dpl. Pertumbuhan tanaman melon tidak banyak di pengaruhi oleh kelembaban udara, asalkan kadar air di dalam tanah cukup tersedia. Kelembaban ± 65 %.kelembaban yang tinggi akan mempercepat perkembangan penyakit,jamur dan proses pemasakan. Angin yang bertiup cukup keras dapat merusak pertanaman melon dan hujan yang terus menerus juga akan merugikan tanamn melon. (prajnanta, 2003).
Tanaman melon membutuhkan tempat yang mendapat sinar matahari penuh sekitar 10- 12 jam/ hari, suhu udaranya hangat dan kelembaban udaranya relatip rendah. Selama proses perkecambahan idealnya pada suhu udara280 C- 300C, sedangkan pada periode pertumbuhan kisaran suhu yang ideal 250 C-300C (Rukmana 1994).







2.3. Tanah Gambut  
Tanah gambut terbentuk dari sisa tumbuhan yang setengah busuk/dekomposisi dan memepunyai kandungan bahan organik yang tinggi.Tanah gambut kebanyakan berada pada lahan basah atau jenuh air berupa cekungan,pantai,rawa karena proses pembusukan memebutuhkan lingkugan anaerob,pada permukaan tanahnya terliaht potongan kayu,daun,ranting yang setengah membusuk karena belum mengalami dekomposisi yang sempurna.
Tanah gambut atau sering di sebut sebagai tanah orgonosol merupakan tumpukan bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tananaman yang sudah melapuk dan terjadi dalam jangka waktu yang lama dan selalu tergenang(rawa)penguraian bahan organiknya di lakukan oleh bakteri anaerob dan sangat di pengaruhi oleh sifat vegetasi asal ,iklim,topografi dan sifat kimia.Indonesia meemiliki lahan gambut terluas di antara negara tropis,yaitu sekitar 21 juta ha, yang terebar di sumatera,kalimantan dan papua.karena variabilitas lahan ini sangat tinggi ,baik dari segi ketebalan gambut kematangan kesuburannya,tidak semua lahan gambut layak untuk di jadikan areal pertanian(Ritalosari,2012) .
Sejalan dengan pertambahan penduduk dan keterbatasan lahan pertanian menyebabkan pilihan diarahkan pada lahan gambut baik untuk kepentingan pertanian maupun untuk pemukiman penduduk. Penggunaan lahan gambut untuk pertanian dengan semestinya dan efesien akan memberikan sumbangan bagi kelangsungan pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Perkembangan pertanian pada lahan gambut mengahdapi banyak kendala yang berkaitan dengan sifat tanah gambut.
Menurut Soepardi (1979) dalam Mawardi et al, (2001), secara umum sifat kimia tanah gambut didominasi asam-asam organik yang merupakan suatu hasil akumulasi sisa-sisa tanaman. Asam organik yng dihasilkan selama proses dekomposisi tersebut merupakan bahan yang bersifat toksid bagi tanaman, sehingga mengganggu proses metabolisme yang berakibat langsung terhadap produktivitasnya. Sementara itu secara fisik tanah gambut bersifat lebih berpori dibandingkan tanah mineral sehingga hal ini akan mengakibatkan cepatnya pergerakan air pada gambut yang belum terdekomposisi dengan sempurna sehingga jumlah air yang tersedia bagi tanaman sangat terbatas.











2.3.            Pupuk Hayati Petrobio
Pupuk hayati adalah pupuk yang mengandung mikroorganisme hidup
dari mikrobia yang digunakan untuk meningkatkan jumlah mikrobia dalam
tanah, sehingga dapat menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman
(Sugito et al, 1995 dalam Wahyuni, et al, 2009).  Handayanto (1998)
menambahkan bahwa keberadaan pupuk hayati dalam tanah dinilai
sangat efektif karena dapat meningkatkan ketersediaan hara dan
memperbaiki sifat tanah dalam mendukung pertumbuhan tanaman.
Sugiarto (2008) menyatakan bahwa pupuk hayati petrobio berbentuk
granuler, berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis
dan mikroba pelarut P. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pupuk hayati
petrobio bahan aktifnya terdiri dari mikroba Aspergillus niger, Penicillium
sp, Pantoea sp, Azospirillum sp, dan Streptomyces sp., keberadaan
mikroba-mikroba tersebut mengefektifkan serapan N dan P tanah oleh
tanaman. Bakteri penambat N dari udara berkemampuan mengikat N bebas di dalam udara tanah melalui produksi enzim reduktase urea. Bakteri tersebut bersimbiosis dengan akar tanaman dan hidup dalam bintil akar. Simbiosis ini membuat tanaman hanya perlu pasokan sedikit N, Selain itu, mikroba pelarut P yang digunakan bisa menghasilkan enzim fosfatase, asam-asam organik, dan polisakarida ekstra sel yang membebaskan unsur P dari senyawa pengikatnya sehingga P tersedia bagi tanaman (Sugiarto, 2008). Anonim (2010) menambahkan bahwa Pupuk hayati petrobio berisi mikroorganisme penghancur bahan-bahan organik
(dekomposer) sehingga tanah menjadi gembur, sehingga mampu
menahan air yang lebih banyak dan akar tanaman dapat berkembang
lebih maksimal, sehingga serapan unsur hara akan lebih efektif.
Pemberian pupuk petrobio 30 kg ha-1 menghasilkan volume akar
tertinggi, petrobio 60 kg ha-1 menghasilkan tinggi tanaman tertinggi,
dan  petrobio 90 kg ha-1 menghasilkan berat 1.000 biji dan produksi
biji pipilan perhektar tertinggi.(hamzah faisal,et al,2013)
















BAB III
 METODE PENELITIAN
3.1. Waktu danTempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2017 sampai dengan bulan Febuari 2018. Penelitian ini berlokasi di Perumahan Dosen kampus II Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Jl. Anggrek, Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan-bahan dalam penelitian ini adalah benih melon varietas Merlin F1, pupuk kandang kotoran ayam, kapur dolomit sebagai perlakuan dasar, polybag, turus/ajir dan tanah gambut. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, sekop, terpal, karung, ember, hand sprayer, timbangan, kamera, alat tulis, serta alat bantu lainnya yang menunjang kelancaran penelitian.
3.3. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal dengan empat ulangan.
Perlakuan dasar pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 15 ton/ha dan penambahan pupuk hayati petrobio (P) yang terdiri dari 3(tiga) taraf yaitu:

P1= 0 ton/ha (0 g/polybag)
P2= 30 ton/ha ( 0,25 g/polybag)
P3= 60 ton/ha (0,51 g/polybag)
Tabel 1. Perlakuan pupuk hayati petrobio (P)
Perlakuan
Ulangan
1
2
3
4
P1
P1 (1)
P1 (2)
P1 (3)
P1 (4)
P2
P2 (1)
P2(2)
P2 (3)
P2 (4)
P3
P3 (1)
P3 (2)
P3 (3)
P3 (4)

Dengan demikian dari perlakuan pemberian pupuk hayati petrobio yang terdiri dari tiga taraf perlakuan dan diulang sebanyak empat ulangan maka diperoleh 12 satuan percobaan. Sedangkan penempatan masing-masing perlakuan dilakukan secara acak kelompok.
Menurut Suhaemi (2011), bentuk umum dari model linier rancangan acak kelompok (RAK) adalah sebagai berikut:
Yij = µ + Kj +i + ij
Keterangan:
i                = 1, 2, 3,… p (Jumlah Perlakuan) dan j = 1, 2, 3,…, 1 (Jumlah Ulangan)
Yij                        = Nilai pengamatan pada satuan percobaan
µ              = Nilai tengah umum
Kj             = Pengaruh Perlakuan kelompok ke-j
i                     = Pengaruh perlakuan taraf ke-i
ij                    = Galat percobaan pada satuan percobaan ulangan ke-j perlakuan ke-i
3.4. Pelaksanaan Penelitian
3.4.1. Persiapan Lahan
Lahan yang akan digunakan terlebih dahulu dibersihkan dari tumbuhan seperti gulma menggunakan parang. Tujuan dari pembersihan lahan adalah untuk mencegah gangguan dari organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat mengganggu kegiatan selama penelitian berlangsung. Setelah lahan dibersihkan kemudian tanah yang bergelombang diratakan menggunakan cangkul untuk tempat meletakkan polybag.
3.4.2. Persiapan Media Tanam
Media tanam berupa tanah gambut yang diambil dari lahan kampus II Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, pada kedalaman 0-20 cm. tanah kemudian dikering anginkan selama satu minggu pada tempat terbuka. Setelah kering, tanah kemudian dihancurkan dan diayak dengan menggunakan ayakan tanah berukuran 16 mesh. Setelah tanah diayak kemudian ditimbang dengan berat 6 kg, kemudian dicampur kapur dolomit sebagai perlakuan dasar dengan dosis 12 ton/ha atau 102 g/polybag dan diinkubasi selama satu minggu. Tanah yang telah diinkubasi dengan kapur dolomit kemudian diberi pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 15 ton/ha dan dilakukan inkubasi selama satu minggu sebelum tanam. Aplikasi pupuk sebanyak dua kali, pertama satu minggu sebelum tanam dan empat minggu setelah tanam.
3.4.3. Persemaian
Benih sebelum disemai terlebih dahulu direndam dalam air hangat kuku selama 30 menit. Benih setelah direndam kemudian ditiriskan dan dilakukan penyemaian pada media semai yang sudah disiapkan. Media semai terdiri dari tanah gambutyang telah diberi kapur dolomit dengan dosis 12 ton/ha dan pupuk guano yang sudah matang dengan perbandingan volume 1:1. Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang sedalam 1 cm, lalu benih dimasukkan ke media semai dan ditutup dengan tanah, kemudian media semai dibasahi dengan air agar terjaga kelembapannya.
3.4.4. Penanaman
Penanaman dilakukan setelah bibit berumur 10-14 hari atau setelah meliki 2-3 helai daun. Bibit yang dipindahkan adalah bibit yang subur dan sehat dengan ciri berwarna hijau segar serta pertumbuhannya seragam. Penanaman dilakukan dengan hati-hati, dengan tiap satu lubang tanam ditanami 1 bibit melon. Jarak tanam yang digunakan adalah 50 × 40 cm.
Penanaman dilakukan pada sore hari sekitar pukul 16.00 -17.00 WIB untuk menghindari tanaman mengalami stres karena terik matahari, saat sebelum tanam. Media semai terlebih dulu disiram sampai basah agar tidak pecah/berhamburan media semainya. Setelah penanaman selesai, bibit disiram  secukupya agar tanaman tidak layu
3.4.5. Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman melon selama pertumbuahannya. Pemupukan susulan diberikan pada tanaman melon yaitu pada umur 4 minggu setelah tanam sesuai dengan dosis dari tiap-tiap perlakuan.
3.4.6. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman dilakukan selama penelitian berlangsung secara intensif yang meliputi: penyiraman, penyulaman, pemasangan ajir, pengikatan tanaman, pemangkasan, seleksi buah, pengikatan tangkai buah, pembumbunan, penyiangan, pemupukan susulan, serta pengendalian hama dan penyakit.
Penyiraman dilakukan setiap hari, yaitu pada pagi dan sore hari apabila tidak turun hujan terutama dilakukan pada awal pertumbuhan. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gelas ukur setengah liter yang diberikan pada umur tanaman 0-2 minggu setelah tanam. Kemudian pada umur 2-8 minggu setelah tanam penyiraman ditambah volumenya menjadi satu liter. Pada umur 8-10 minggu setelah tanam penyiraman dikurangi agar rasa buah menjadi manis dan tidak mudah pecah.
Penyulaman dilakukan dengan tujuan untuk mengganti tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang normal dan paling lambat satu minggu setelah tanam dengan cara menanam bibit cadangan yang berumur sama.
Pemasangan ajir dilakukan dengan menancapkan kayu ajir disamping polybag sebagai tempat merambatnya tanaman dan penggantung buah melon. Pemasangan ajir dilakukan satu minggu setelah tanam.
Pengikatan tanaman dilakukan untuk merambatkan tanaman pada ajir yang sudah dipasang. Batang tanaman mulai diikat pada ajir dengan tali rafia setelah tanaman berumur 12 hari atau setelah memiliki 7 daun, dengan ikatan model angka 8 agar batang melon tidak luka. Pengikatan dilakukan 3 hari sekali sampai ikatan mencapai ujung ajir.
Pemangkasan dilakukan untuk membuang calon tunas (cabang) yang merugikan atau yang tidak diinginkan, terutama tunas yang muncul diketiak daun. Pemangkasan dilakukan dari ruas ke-1 sampai dengan ruas ke-10 dan diatas ruas ke-13, cabang pada ruas ke-11 sampai ke-13 tidak perlu dipangkas untuk dijadikan tempat munculnya calon buah yang akan dibesarkan. Pelaksanaannya pada saat tunas-tunas mulai tumbuh.
Seleksi buah dilakukan dengan cara memilih 2 buah yang terbaik dari ruas-ruas yang dipelihara, cabang tempat buah yang tidak terpilih dipangkas.
Pengikatan tangkai buah dilakukan dengan cara mengikat tangkai buah tanpa merusak tangkai dan digantung pada ajir untuk menghindari patahnya tangkai buah dan kontak dengan tanah.
Pembumbunan dilakukan untuk menaikkan atau meninggikan tanah disekitar pangkal batang untuk menutupi akar tanaman akibat dari penyiraman maupun curah hujan.
Penyiangan dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan cara mencabut gulma yang tumbuh disekitar tanaman.
Pemupukan susulan dilakukan agar tanaman tercukupi nutrisinya selama pertumbuhan. Pemupukan susulan dilakukan 6 minggu setelah tanam sesuai dengan dosis dari tiap-tiap perlakuan.
Pengendalian hama dan penyakit selama penelitian dilakukan dengan mengutamakan pengendalian preventif (pencegahan) yaitu dengan cara selalu  menjaga kebersihan lingkungan sekitar budidaya dan pengamatan sedini mungkin terhadap serangan hama dan penyakit tanaman. Pengendalian hama dilakukan dengan cara manual yaitu mematikan hama yang ada pada tanaman, jika serangan hama terlalu tinggi maka dikendalikan dengan pestisida yang ramah lingkungan seperti pestisida organik yang terbuat dari berbagai macam ramuan seperti batang serai, bawang putih, daun sirih dan cabai.
3.4.7. Panen
Panen dilakukan pada umur 68-70 hari setelah tanam, saat buah sudah memenuhi criteria panen yaitu ukuran buah sesuai dengan ukuran normal, serat jala pada kulit buah sangat nyata/kasar, warna kulit hijau kekuningan, terdapat keretakan pada bagian tangkai buah yang menempel pada buah dan ciri lainnya yaitu buah beraroma harum. Waktu pemanenan dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 06.00-08.00 WIB.
3.5. Pengamatan
Variable yang diamati dalam penelitian ini adalah:
3.5.1. Diameter Batang
Pengamatan diameter batang dilakukan dengan cara mengukur lingkaran tengah batang pada bagian leher akar dengan jangka sorong. Diameter batang (cm), diukur pada umur 14, 21, dan 28 hari setelah tanam pada masing-masing tanaman melon.
3.5.2. Tinggi Tanaman
Pengamatan tinggi tanaman diukur dengan cara menguncupkan semua bagian tanamn dan diambil ukuran yang terpanjang sebagai acuan pengukuran. Tinggi tanaman dihitung pada umur 14, 21, Dan 28 hari setelah tanam pada masing – masing tanaman melon.
3.5.3. Jumlah Daun
Pengamatan jumlah daun dilakukan dengan cara menghitung jumlah seluruh daun yang telah terbuka sempurna. Dihitung sebelum dilakukan pemangkasan tunas apical (topping). Jumlah daun (helai), dihitung pada umur 14, 21, dan 28 hari setelah tanam pada masing-masing tanaman melon.


3.5.4. Umur Mulai Berbunga
Pengamatan umur mulai berbunga dilakukan dengan cara menghitung hari mulai keluarnya bunga pertama. Dihitung dari hari setelah tanam (HST), hingga mulai keluarnya bunga pertama yang ditunjukkan dengan membukanya mahkota bunga dengan sempurna pada masing-masing tanaman melon.
3.5.5. Diameter Buah
Pengamatan diameter buah dilakukan dengan cara mengukur pada lingkaran tengah buah (cm), dengan menggunakan meteran (penggaris siku-siku), diukur pada masing-masing buah pada saat panen.
3.5.6. Berat Buah
Pengamatan berat buah dilakukan dengan cara menimbang berat buah pertanaman setelah panen dengan timbangan manual. Berat buah (kg), ditimbang pada masing-masing buah pada saat setelah panen.
3.5.7. Tebal Daging Buah
Pengamatan tebal daging buah dilakukan dengan cara mengukur ketebalan daging buah dari batas dengan kulit sampai batas dengan rongga dalam buah menggunakan jangka sorong. Tebal daging buah (cm) diukur pada masing-masing buah setelah panen.




3.6. Analisa Data
Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf = 1% dan  = 5%. Jika terdapat pengaruh yang nyata pada perlakuan maka dilanjutkan dengan uji beda rata-rata menggunakan BNJ pada taraf  = 5%.

















LAMPIRAN
Lampiran 1.Denah Tata Letak Percobaan.
Keterangan:
            S0 = Pupuk Hayati Petrobio 0 ton/ha.
            S1 = Pupuk Hayati Petrobio 30 ton/ha.
            S2 = Pupuk Hayati Petrobio 60 ton/ha.



                                                                                                                          U    
                                                                                                          T                                B                                                                                                                                                                                               
                                                                                                                           S

P1 (1)

P1 (2)

P1 (3)
P1 (4)
P2 (1)
P2 (2)
P2 (3)
P2 (4)
P3 (1)
P3 (2)
P3 (3)
P3 (4)
Lampiran 2.
 Deskripsi Tanaman Melon (Cucumis melo L.) varietas Merlin F1
Uraian
Deskripsi
Asal
PT. Benih Citra Asia (BCA)
GolonganVarietas
Hibrida
Dianjurkan
Dirambatkan padalanjaran
Buah
Berbentuk bulat
Warna buah
Oranye gelap
Beratbuah
1,5-3 kg
Ketahananterhadappenyakit
Tahan penyakit virus Gemini
Umurmulaipanen
68-70 hst
Syarat tumbuh
Dapat dibudidayakan di dataran rendah dan menengah
Harga/beratbersih
Rp. 450.000,-/bungkus, isi 550 butir








Jadwal Penelitian

NamaKegiatan
Bulan (Minggu ke)
Oktober 2017
November 2017
Desember 2017
Januari 2018
Februari 2018
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
Pengusulan Proposal PL




















Persiapan Alat dan Bahan PL




















Persiapan Lahan PL




















Persiapan Media Tanam




















Persemaian Benih Melon




















Penanaman Bibit Melon




















Pemeliharaan Tanaman Melon




















Pemupukan Susulan




















Pengamatan




















Panen




















Pembuatan Laporan PL





















DAFTAR PUSTAKA



Anonim. 2011. Pase pertumbuhan  Tanaman www. Google. com. diakses pada Tanggal 22 november 2017.

Agustina, L. 1990. Dasar Nutrisi tanaman. Rhineka Cipta. Jakarta.

Andrianus, T. 2015. Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Ayam dan Pupuk Plan.t Catalyst 2006 terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon (Cucumis melo L.) pada Tanah Berpasir. Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Palangka Raya.

Ramanta.E Aditya 2008.Pengaruh Efektivitas Pupuk Hayati Petrobio Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Hibrida (Zea mays L.). J. Var 6 (1): 2-8

Badan Pusat Statistik (BPS). 2015. Statistik Hortikultura. Kalimantan Tengah.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2016. Statistik Hortikultura. Kalimantan Tengah.

Lingga dan Marsono 2013. Petunjuk penguna pupuk penebar swadaya. Jakarta
.
Mukariyah. 2015. Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa) terhadap Pemberian Pupuk Kandang Sapi pada Tanah Gambut. Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Palangka Raya.

Thoha, M. 2013. Efektivitas Pemberian Pupuk Organik Cair Kotoran Ayam dan Pengurangan Jumlah Buah terhadap Hasil Tanaman Melon (Cucumis melo L.) pada Tanah Gambut.

Trubus. 2011. The Best Melon. PT. Trubus Swadaya. Jakarta.
Suhaemi. Z .2011. diktat Metode Penelitian dan Rancangan Percobaan. Program Studi Perternakan Fakultas Pertanian. Universitas Taman siswa Padang.
Prajnanta, F. 2003. Melon: pemiliharaan secara intensef, kiat sukses beragribisnis. Penebar swadaya, jakarta.

Rukmana, R. 1994. Budidaya melon Hibrida. Kanasius. Yogyakarta.

Sugiarto, Y., 2008. Petrokimia Gresik luncurkan pupuk hayati. [Diakses 24 Februari 2018 pada situs http://www.agrina-online.com.]

Siemonsma, J.S. dan K. Piluek. 1994. Plant Resources of South East Asia Vegetables. Prosea Foundation. Bogor.

Handayanto, E., 1998. Pengelolaan kesuburan tanah secara biologi untuk menuju sistem pertanian sustainabel. Habitat 4 (10): 104 – 110.



Wahyuni, S.T., T. Islami, H.T. Sebayang, dan B. Hariyono, 2010. Pengaruh pupuk hayati petrobio dan pupuk N, P, K pada pertumbuhan awal tanaman jarak pagar (Jatropa curcas L.).[Diakses 24 Februari 2018 pada situshttp://Pustaka_pertanian_ub.staff.ub.ac.id/files/2012/01/jurnal.pdf].

Ritalosari. http://ritalosari7.blogspot.com/2012/09/definisi-pertanian.html. Diakses pada tanggal 17 Februari 2018 pukul 10:42 Wib

Mawardi, E., Azwar dan Tambidjo, A., 2001. Potensi dan Peluang Pemanfaatan Harzeburgite sebagai Amelioran Lahan Gambut. Prosiding Seminar Nasional Memantapkan Rekayasa Paket Teknologn dan Ketahanan Pangan dalam Era Otonomi Daerah, 31 Oktober – 1 November 2001. Bengkulu.

Anonim,2010. Petrobio. [Diakses 24 Februari 2018 pada situs http://www.lembahpinus.com].
Hamzah faisal,at al,2013. Efektifitas pupuk hayati petrobio dan pupuk phonska terhadap pertumbuhan produksi tanaman jagung.








Komentar