proposal penelitian rudi
assalamualaikum wr wb
U
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
HASIL TANAMAN MELON (Cucumis melo L.)
PADA TANAH GAMBUT
PROPOSAL PRAKTEK LAPANG
Oleh :
RUDI HARTONO
NIM : 14.31.015773
UNIVERSITAS MUHAMMADIAH PALANGKARAYA
FAKULTAS PERTANIAN DAN KEHUTANAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
2017
DAFTAR ISI
HALAMAN
KATA
PENGANTAR...................................................................................
DAFTAR ISI.................................................................................................
PENDEHULUAN ..........................................................................................
Latar
Belakang...............................................................................................
Tujuan
Penelitian..........................................................................................
Hipotesis......................................................................................................
TINJAUAN
PUSTAKA...............................................................................
Botani Dan Morpologi Tanaman
Melon.......................................................
Syarat
Tumbuh............................................................................................
Tanah
Gambut....................................................................................
Pupuk kandang kotoran
sapi........................................................................
METODELOGI
PENELITIAN....................................................................
Tempat Dan
Waktu......................................................................................
Bahan Dan
Alat............................................................................................
Metode
Penelitian........................................................................................
Pelaksanaan
Penelitian................................................................................
Pengamatan.................................................................................................
Analisis
Data................................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN
•
BAGAN PERCOBAAN
...............................................................................
•
JADWAL PERENCANAAN PELAKSANAAN PENELITIAN...................
•
DESKRIPSI TANAMAN MELON (
Cucucmis Melo L) VARIETAS............
•
PERHITUNGAN DOSIS KAPUR DOLOMIT DAN DOSIS PUPUK HAYATI
PETROBIO PERTANAMAN..................................................
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian
|
:
|
Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati Terhadap
|
Pertumbuhan dan Hasil
Tanaman Melon (Cucumis melo
L.) pada Tanah Gambut
|
||
Nama
|
:
|
Rudi Hartono
|
NIM
|
:
|
14.31.015773
|
Program Studi
|
:
|
Agroteknologi
|
Menyetujui
Pembimbing I
|
Pembimbing II
|
NURUL HIDAYATI, S.P.,
M.P
|
FAHRUDDIN ARFIANTO, S.Pi.,M.Pd
|
Tanggal :
|
Tanggal :
|
Mengetahui
Universitas Muhammadiyah Palangkaraya
|
Fakultas Pertanian dan Kehutanan
|
Fakultas Pertanian dan Kehutanan
|
Program Studi Agroteknologi
|
Dekan,
|
Ketua,
|
SITI MAIMUNAH, S.Hut.,
M.P.
|
PIENYANI ROSAWANTI,
S.P., M.Si.
|
NIDN. 1131017603
|
NIDN. 1123017601
|
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat,nikmat
iman,ilmu dan kesehatan penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian lapang
dengan judul '' Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati terhadap Petumbuhan dan Hasil
Tanaman Melon (Cucucmis melo L)'' pada
Tanah Gambut.
Penulisan
proposal praktek lapang ini di ajukan sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan studi pada Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Program Studi
Agroteknologi, Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.
Ucapan terima
kasih, penulis sampaikan kepada Ibu Nurul
Hidayati, S.P., M.P dan Bapak Fahruddin
Arfianto, S.Pi., M.Pd selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
pengetahuan dan bimbingan kearah yang lebih baik selama proses penulisan proposal ini hingga
selesai.
Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan proposal praktek lapang ini terdapat banyak kekurangan,oleh karena itu
kritik,saran dan masukan dari semua pihak sangat di harapkan.
Palangkaraya
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Peranan produk hortikultura seperti buah dan sayuran dalam
gizi makanan sehari-hari adalah sebagai sumber utama vitamin dan mineral,
walaupun diperlukan dalam jumlah sedikit namun kontinuitas dan eksisitensi
kedua sumber gizi pasti dibutuhkan dalam tubuh.
Tanaman melon (Cucumis melo L) merupakan salah satu komoditas
hortikultura yang perlu mendapat perhatian, selain harga jualnya relatif baik
dan rasa yang banyak diminati konsumen secara umum sehingga prospek pasar untuk
komoditas ini cukup baik sehingga pengembangannya layak untuk diperhatikan.
Dengan peningkatan taraf hidup masyarakat di Indonesia maka kebutuhan akan
pangan terutama bukan makanan pokok seperti buah dan sayuran akan meningkat
pula. Melon yang dibudidayakan memiliki beragam jenis, di Indonesia ada beberapa
seperti Rocket, Action 434, dari
berbagai jenis ini memiliki ciri khas yang berbeda seperti pada warna daging
buah, aroma buah, kekasaran kulit dan terakhir adalah kadar kemanisan daging
buah. Jenis yang disukai masih sangat tergantung konsumennya. (Jurnal Sains dan Teknologi Vol.2 No.2 Juni 2009)
Daging buahnya tebal berwarna hijau
kekuningan, kadar gulanya tinggi,
beraroma harum yang kuat, kulit buah yang halus seperti jala dan jenis ini
tahan terhadap busuk buah, kapasitas per butir mencapai 2 kg. Kandungan zat
gizi dalam 100 g dari bagian buah melon yang dapat dimakan adalah protein 0,6
g, kalsium 17 mg, thiamin 0,045 mg, vitamin A 2,4 IU, vitamin C 30 mg, vitamin
B 0,045 mg, vitamin B2 0,065 mg, karbohidrat 6 mg, niasin 1 mg, riboflavin 0,065
mg, zat besi 0,4 mg, nikotianida 0,5 mg, air 93 ml serat 0,4 g dan 23
kalori. Selain kandungan gizi yang
begitu beragam, melon sering juga digunakan sebagai buah untuk terapi kesehatan
,karena mempunyai khasiat untuk membantu sistem pembuangan (karena serat yang
tinggi),sebagai anti kanker, menurunkan resiko stroke dan penyakit jantung dan
mencegah penggumbalan darah. Dengan mempertimbangkan perkembangan populasi
kesejahteraan masyarakat dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan gizi maka
akan tejadi peningkatan kebutuhan terhadap tanaman hortikultura, khususnya buah
buahan. Salah satu komoditas buah buahan yang menjadi prioritas dan perlu
mendapat perhatian adalah tanaman melon (Cucumis
meloL.).Tanaman melon termasuk salah satu jenis tanaman buah-buahan semusim
yang mempunyai arti penting bagi perkembangan sosial ekonomi khususnya dalam
meningkatkan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat dan perluasan
lapangan kerja.
Berdasarkan data BPS
Kalimantan Tengah untuk budidaya tanaman melon padatahun 2015 produksi tanaman
melon adalah 417 kuintal. Sedangkan untuk kota Palangka Raya budidaya tanaman
melon dengan luas lahan 3 hektar, produksi buah melon adalah 239 kuintal. (BPS
Kalimantan Tengah, 2015).
Pada tahun 2016 produksi melon di Kalimantan Tengah mengalami
peningkatan yaitu sebesar 3.521kuintal. Sedangkan di Kota Palangka Raya
budidaya melon dengan luas 13 hektar, produksi melon sebesar 1654 kuintal. (BPS
Kalimantan Tengah, 2016)
Melon saat ini berkembang sebagai komoditas agribisnis.
Melon memiliki nilai ekonomi dan prospek yang cukup besar dalam pemasarannya
namun memerlukan penanganan intensif dalam budidayannya. Komoditas ini diminati
oleh masyarakat banyak dan mempunyai harga yang relatif tinggi baik untuk pasar
domestik maupun ekspor. Sampai saat ini untuk memenuhi kebutuhan akan melon
untuk masyarakat kota palangka raya masih harus didatangkan dari luar kota. Keadaan potensi lahan yang
ada di kota palangka raya dan sekitarnya sangat memungkinkan untuk budidaya
tanaman melon. Namun demikian, karena tanaman melon masih jenis tanaman yang
relatif baru menyebabkan pengatahuan petani tentang teknik budidaya melon yang
baik dan benar masih terbatas sehingga masih sangat sedikit petani yang
mengusahakan tanaman melon.
Wilayah kota palangka raya
di dominasi oleh lahan gambut.kendala pengembangan pertanian di lahan
gambut adalah produktivitas lahan yang
rendah,unsur hara yang tersedia di lahan gambut sangat sedikit Pupuk hayati
merupakan alternatif yang tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas
tanah. Sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Pupuk
hayati dapat memperbaiki struktur dan biologis tanah karena mampu mempercepat
penguraian bahan organik tanah, sehingga mendukung pertumbuhan dan hasil
tanaman melon yang maksimal. Pupuk hayati ini tidak meracuni tanaman dan juga
tidak mencemari lingkungan (Ramanta, 2008)Dilihat dari permasalahan tersebut
diatas, maka penulis mengadakan penelitian budidaya melon pada tanah gambut,
dengan perlakuan pupuk hayati petrobio.
1.2.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk Mengetahui Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati (Petrobio)
Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Melon Pada Tanah Gambut.
1.2.
HIPOTESIS
1. Pemberian
pupuk hayati petrobio berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon
pada tanah gambut
2. pemberian
pupuk hayati petrobio dengan dosis yang berbeda akan menghasilkan pertumbuhan
dan hasil tanaman melon yang bebeda pula.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1.
Klasifikasi
Dan Morpologi Tanaman Melon
Tanaman melon
termasuk dalam kelas tanaman biji berkeping dua.kedudukan tanaman melon dalam
sistematika tumbuhan, diklasifikasikan
sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Sub-divisio : Angeospermai
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Cucuribitales
Familia : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis melo L.
Tanaman melon (Cucumis
melo L)merupakan famili cucurbitaceae.Melon
termasuk tanaman yang menghasilkan biji sehingga di masukan dalam tumbuhan
berbiji (Spermatophyta).Biji melon
tertutup oleh bakal buah,sehingga di masukan kedalam golongan tumbuhan berbiji
tertutup(Angiospemae).Tanaman melon terdiri dari dua daun lembaga sehingga di
masukan dalam tumbuhan berbiji belah(dikotil)dan tergolong dalam genera
cucumis.
Tanaman melon (cucumis
melo L), mirip dengan tanaman ketimun (cucumis
sativus L),. Merupakan tanaman semusim, menjalar di tanah atau dapat
dirambatkan pada turus bambu. Tanaman ini mempunyai banyak cabang, kira kira
15-20 cm.
Melon (Cucumis melo
L.) tergolong ordo Cucurbitales suku Cucurbitaceae genus cucumis
(Tjitrosoepomo, 2004). Sari dalam Rubatzky dan Yamaguchi (1999) menyatakan
bahwa tanaman melon merupakan tanaman semusim (annual), herbacious, batang berbentuk segi lima tumpul dengan
panjang 1,5 m-3 m, berbulu, bersulur tunggal, sebagian besar kultivar merambat
dan lunak. Daun melon berbentuk bulat bersudut dengan diameter 8 cm – 15 cm,
memiliki 5 – 7 lengkungan yang dangkal dan permukaan daunya berbulu.
Sistem perakaran termasuk akar tunggang dengan ujung akar
yang mampu menembus tanah sedalam 1 m ( Sari dalam Siemonsma dan Piulek, 1994
), sari dalam Ashari (2006) menyatakan tanaman melon bersifat polimorfit, yang
memiliki bunga jantan, betina dan hermafrodit. Sistem pembungaan pada tanaman
melon termasuk monoecious (berumah atau
berkelamin tunggal) atau andromonoecious
(satu tanaman menghasilkan bunga jantan dan hermafrodit). Sari dalam Siemonsma
dan pliuek (1994), menyatakan bunga jantan terbentuk pada ketiak daun,
sedangkan bunga hermafrodit tumbuh pada cabang lanteral.
2.2.
Syarat
Tumbuh
Tanaman
melon memerlukan curah hujan antara 2000- 3000 mm/tahun. Ketinggian tempat
tempat yang optimal adalah 200-900 m dpl. Namun, tanamn melon masih dapat
berproduksi dengan baik pada ketinggian 0-100 m dpl. Pertumbuhan tanaman melon
tidak banyak di pengaruhi oleh kelembaban udara, asalkan kadar air di dalam
tanah cukup tersedia. Kelembaban ± 65 %.kelembaban yang tinggi akan mempercepat
perkembangan penyakit,jamur dan proses pemasakan. Angin yang bertiup cukup
keras dapat merusak pertanaman melon dan hujan yang terus menerus juga akan
merugikan tanamn melon. (prajnanta, 2003).
Tanaman melon membutuhkan tempat yang mendapat sinar
matahari penuh sekitar 10- 12 jam/ hari, suhu udaranya hangat dan kelembaban
udaranya relatip rendah. Selama proses perkecambahan idealnya pada suhu udara280
C- 300C, sedangkan pada periode pertumbuhan kisaran suhu yang
ideal 250 C-300C (Rukmana 1994).
2.3.
Tanah Gambut
Tanah gambut terbentuk dari sisa tumbuhan yang setengah
busuk/dekomposisi dan memepunyai kandungan bahan organik yang tinggi.Tanah
gambut kebanyakan berada pada lahan basah atau jenuh air berupa
cekungan,pantai,rawa karena proses pembusukan memebutuhkan lingkugan
anaerob,pada permukaan tanahnya terliaht potongan kayu,daun,ranting yang setengah
membusuk karena belum mengalami dekomposisi yang sempurna.
Tanah gambut atau sering di sebut sebagai tanah orgonosol
merupakan tumpukan bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tananaman yang
sudah melapuk dan terjadi dalam jangka waktu yang lama dan selalu
tergenang(rawa)penguraian bahan organiknya di lakukan oleh bakteri anaerob dan
sangat di pengaruhi oleh sifat vegetasi asal ,iklim,topografi dan sifat
kimia.Indonesia meemiliki lahan gambut terluas di antara negara tropis,yaitu
sekitar 21 juta ha, yang terebar di sumatera,kalimantan dan papua.karena
variabilitas lahan ini sangat tinggi ,baik dari segi ketebalan gambut
kematangan kesuburannya,tidak semua lahan gambut layak untuk di jadikan areal
pertanian(Ritalosari,2012) .
Sejalan dengan pertambahan penduduk dan keterbatasan lahan
pertanian menyebabkan pilihan diarahkan pada lahan gambut baik untuk
kepentingan pertanian maupun untuk pemukiman penduduk. Penggunaan lahan gambut
untuk pertanian dengan semestinya dan efesien akan memberikan sumbangan bagi kelangsungan
pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Perkembangan pertanian pada lahan gambut
mengahdapi banyak kendala yang berkaitan dengan sifat tanah gambut.
Menurut Soepardi (1979) dalam Mawardi et al, (2001), secara umum sifat kimia tanah gambut didominasi asam-asam
organik yang merupakan suatu hasil akumulasi sisa-sisa tanaman. Asam organik
yng dihasilkan selama proses dekomposisi tersebut merupakan bahan yang bersifat
toksid bagi tanaman, sehingga mengganggu proses metabolisme yang berakibat
langsung terhadap produktivitasnya. Sementara itu secara fisik tanah gambut
bersifat lebih berpori dibandingkan tanah mineral sehingga hal ini akan
mengakibatkan cepatnya pergerakan air pada gambut yang belum terdekomposisi
dengan sempurna sehingga jumlah air yang tersedia bagi tanaman sangat terbatas.
2.3.
Pupuk
Hayati Petrobio
Pupuk hayati adalah pupuk yang mengandung mikroorganisme
hidup
dari mikrobia yang digunakan untuk meningkatkan jumlah
mikrobia dalam
tanah, sehingga dapat menambah ketersediaan unsur hara bagi
tanaman
(Sugito et al, 1995 dalam Wahyuni, et al, 2009). Handayanto (1998)
menambahkan bahwa keberadaan pupuk hayati dalam tanah
dinilai
sangat efektif karena dapat meningkatkan ketersediaan hara
dan
memperbaiki sifat tanah dalam mendukung pertumbuhan tanaman.
Sugiarto (2008) menyatakan bahwa pupuk hayati petrobio
berbentuk
granuler,
berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis
dan mikroba pelarut P. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pupuk
hayati
petrobio bahan aktifnya terdiri dari mikroba Aspergillus
niger, Penicillium
sp, Pantoea sp, Azospirillum sp, dan Streptomyces sp.,
keberadaan
mikroba-mikroba tersebut mengefektifkan serapan N dan P
tanah oleh
tanaman. Bakteri penambat N dari udara berkemampuan mengikat
N bebas di dalam udara tanah melalui produksi enzim reduktase urea. Bakteri
tersebut bersimbiosis dengan akar tanaman dan hidup dalam bintil akar.
Simbiosis ini membuat tanaman hanya perlu pasokan sedikit N, Selain itu,
mikroba pelarut P yang digunakan bisa menghasilkan enzim fosfatase, asam-asam
organik, dan polisakarida ekstra sel yang membebaskan unsur P dari senyawa
pengikatnya sehingga P tersedia bagi tanaman (Sugiarto, 2008). Anonim (2010)
menambahkan bahwa Pupuk hayati petrobio berisi mikroorganisme penghancur
bahan-bahan organik
(dekomposer) sehingga tanah menjadi gembur, sehingga mampu
menahan air yang lebih banyak dan akar tanaman dapat
berkembang
lebih maksimal, sehingga serapan unsur hara akan lebih
efektif.
Pemberian pupuk petrobio 30 kg ha-1 menghasilkan volume akar
tertinggi, petrobio 60 kg ha-1 menghasilkan tinggi tanaman
tertinggi,
dan petrobio 90 kg
ha-1 menghasilkan berat 1.000 biji dan produksi
biji pipilan perhektar tertinggi.(hamzah faisal,et al,2013)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu
danTempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2017 sampai dengan
bulan Febuari 2018. Penelitian ini berlokasi di Perumahan Dosen kampus II
Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Jl. Anggrek, Kelurahan Kereng Bangkirai,
Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan-bahan dalam
penelitian ini adalah benih melon varietas Merlin F1, pupuk kandang kotoran
ayam, kapur dolomit sebagai perlakuan dasar, polybag, turus/ajir dan tanah
gambut. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul,
sekop, terpal, karung, ember, hand sprayer, timbangan, kamera, alat tulis,
serta alat bantu lainnya yang menunjang kelancaran penelitian.
3.3. Metode
Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)
faktor tunggal dengan empat ulangan.
Perlakuan dasar pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan
dosis 15 ton/ha dan penambahan pupuk hayati petrobio (P) yang terdiri dari
3(tiga) taraf yaitu:
P1= 0 ton/ha (0 g/polybag)
P2= 30 ton/ha ( 0,25 g/polybag)
P3= 60 ton/ha (0,51 g/polybag)
Tabel 1. Perlakuan pupuk hayati petrobio (P)
Perlakuan
|
Ulangan
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
|
P1
|
P1
(1)
|
P1
(2)
|
P1
(3)
|
P1
(4)
|
P2
|
P2
(1)
|
P2(2)
|
P2
(3)
|
P2
(4)
|
P3
|
P3
(1)
|
P3
(2)
|
P3
(3)
|
P3
(4)
|
Dengan
demikian dari perlakuan pemberian pupuk hayati petrobio yang terdiri dari tiga
taraf perlakuan dan diulang sebanyak empat ulangan maka diperoleh 12 satuan
percobaan. Sedangkan penempatan masing-masing perlakuan dilakukan secara acak
kelompok.
Menurut
Suhaemi (2011), bentuk umum dari model linier rancangan acak kelompok (RAK)
adalah sebagai berikut:
Yij
= µ + Kj +i + ij
Keterangan:
i = 1, 2, 3,… p (Jumlah Perlakuan)
dan j = 1, 2, 3,…, 1 (Jumlah Ulangan)
Yij = Nilai pengamatan pada
satuan percobaan
µ = Nilai tengah umum
Kj = Pengaruh Perlakuan kelompok ke-j
i = Pengaruh perlakuan taraf ke-i
ij = Galat percobaan pada satuan
percobaan ulangan ke-j perlakuan ke-i
3.4.
Pelaksanaan Penelitian
3.4.1. Persiapan Lahan
Lahan
yang akan digunakan terlebih dahulu dibersihkan dari tumbuhan seperti gulma
menggunakan parang. Tujuan dari pembersihan lahan adalah untuk mencegah
gangguan dari organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat mengganggu kegiatan
selama penelitian berlangsung. Setelah lahan dibersihkan kemudian tanah yang
bergelombang diratakan menggunakan cangkul untuk tempat meletakkan polybag.
3.4.2. Persiapan Media Tanam
Media tanam berupa tanah gambut yang diambil dari lahan
kampus II Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, pada kedalaman 0-20 cm. tanah
kemudian dikering anginkan selama satu minggu pada tempat terbuka. Setelah
kering, tanah kemudian dihancurkan dan diayak dengan menggunakan ayakan tanah
berukuran 16 mesh. Setelah tanah diayak kemudian ditimbang dengan berat 6 kg,
kemudian dicampur kapur dolomit sebagai perlakuan dasar dengan dosis 12 ton/ha
atau 102 g/polybag dan diinkubasi selama satu minggu. Tanah yang telah
diinkubasi dengan kapur dolomit kemudian diberi pupuk kandang kotoran ayam
dengan dosis 15 ton/ha dan dilakukan inkubasi selama satu minggu sebelum tanam.
Aplikasi pupuk sebanyak dua kali, pertama satu minggu sebelum tanam dan empat
minggu setelah tanam.
3.4.3. Persemaian
Benih
sebelum disemai terlebih dahulu direndam dalam air hangat kuku selama 30 menit.
Benih setelah direndam kemudian ditiriskan dan dilakukan penyemaian pada media
semai yang sudah disiapkan. Media semai terdiri dari tanah gambutyang telah
diberi kapur dolomit dengan dosis 12 ton/ha dan pupuk guano yang sudah matang
dengan perbandingan volume 1:1. Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang
sedalam 1 cm, lalu benih dimasukkan ke media semai dan ditutup dengan tanah,
kemudian media semai dibasahi dengan air agar terjaga kelembapannya.
3.4.4. Penanaman
Penanaman
dilakukan setelah bibit berumur 10-14 hari atau setelah meliki 2-3 helai daun.
Bibit yang dipindahkan adalah bibit yang subur dan sehat dengan ciri berwarna
hijau segar serta pertumbuhannya seragam. Penanaman dilakukan dengan hati-hati,
dengan tiap satu lubang tanam ditanami 1 bibit melon. Jarak tanam yang
digunakan adalah 50 × 40 cm.
Penanaman dilakukan pada sore hari sekitar pukul 16.00
-17.00 WIB untuk menghindari tanaman mengalami stres karena terik matahari,
saat sebelum tanam. Media semai terlebih dulu disiram sampai basah agar tidak
pecah/berhamburan media semainya. Setelah penanaman selesai, bibit disiram secukupya agar tanaman tidak layu
3.4.5. Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan bertujuan untuk menambah unsur hara yang
dibutuhkan tanaman melon selama pertumbuahannya. Pemupukan susulan diberikan pada
tanaman melon yaitu pada umur 4 minggu setelah tanam sesuai dengan dosis dari
tiap-tiap perlakuan.
3.4.6. Pemeliharaan
Pemeliharaan
tanaman dilakukan selama penelitian berlangsung secara intensif yang meliputi:
penyiraman, penyulaman, pemasangan ajir, pengikatan tanaman, pemangkasan,
seleksi buah, pengikatan tangkai buah, pembumbunan, penyiangan, pemupukan
susulan, serta pengendalian hama dan penyakit.
Penyiraman
dilakukan setiap hari, yaitu pada pagi dan sore hari apabila tidak turun hujan
terutama dilakukan pada awal pertumbuhan. Penyiraman dilakukan dengan
menggunakan gelas ukur setengah liter yang diberikan pada umur tanaman 0-2
minggu setelah tanam. Kemudian pada umur 2-8 minggu setelah tanam penyiraman
ditambah volumenya menjadi satu liter. Pada umur 8-10 minggu setelah tanam
penyiraman dikurangi agar rasa buah menjadi manis dan tidak mudah pecah.
Penyulaman
dilakukan dengan tujuan untuk mengganti tanaman yang mati atau pertumbuhannya
kurang normal dan paling lambat satu minggu setelah tanam dengan cara menanam
bibit cadangan yang berumur sama.
Pemasangan
ajir dilakukan dengan menancapkan kayu ajir disamping polybag sebagai tempat
merambatnya tanaman dan penggantung buah melon. Pemasangan ajir dilakukan satu
minggu setelah tanam.
Pengikatan
tanaman dilakukan untuk merambatkan tanaman pada ajir yang sudah dipasang.
Batang tanaman mulai diikat pada ajir dengan tali rafia setelah tanaman berumur
12 hari atau setelah memiliki 7 daun, dengan ikatan model angka 8 agar batang
melon tidak luka. Pengikatan dilakukan 3 hari sekali sampai ikatan mencapai
ujung ajir.
Pemangkasan
dilakukan untuk membuang calon tunas (cabang) yang merugikan atau yang tidak
diinginkan, terutama tunas yang muncul diketiak daun. Pemangkasan dilakukan
dari ruas ke-1 sampai dengan ruas ke-10 dan diatas ruas ke-13, cabang pada ruas
ke-11 sampai ke-13 tidak perlu dipangkas untuk dijadikan tempat munculnya calon
buah yang akan dibesarkan. Pelaksanaannya pada saat tunas-tunas mulai tumbuh.
Seleksi
buah dilakukan dengan cara memilih 2 buah yang terbaik dari ruas-ruas yang
dipelihara, cabang tempat buah yang tidak terpilih dipangkas.
Pengikatan
tangkai buah dilakukan dengan cara mengikat tangkai buah tanpa merusak tangkai
dan digantung pada ajir untuk menghindari patahnya tangkai buah dan kontak
dengan tanah.
Pembumbunan
dilakukan untuk menaikkan atau meninggikan tanah disekitar pangkal batang untuk
menutupi akar tanaman akibat dari penyiraman maupun curah hujan.
Penyiangan
dilakukan
dengan cara manual, yaitu dengan cara mencabut gulma yang tumbuh disekitar
tanaman.
Pemupukan susulan dilakukan agar tanaman tercukupi
nutrisinya selama pertumbuhan. Pemupukan susulan dilakukan 6 minggu setelah
tanam sesuai dengan dosis dari tiap-tiap perlakuan.
Pengendalian hama dan penyakit
selama penelitian dilakukan dengan mengutamakan pengendalian preventif
(pencegahan) yaitu dengan cara selalu
menjaga kebersihan lingkungan sekitar budidaya dan pengamatan sedini
mungkin terhadap serangan hama dan penyakit tanaman. Pengendalian hama
dilakukan dengan cara manual yaitu mematikan hama yang ada pada tanaman, jika
serangan hama terlalu tinggi maka dikendalikan dengan pestisida yang ramah
lingkungan seperti pestisida organik yang terbuat dari berbagai macam ramuan
seperti batang serai, bawang putih, daun sirih dan cabai.
3.4.7.
Panen
Panen dilakukan pada umur 68-70 hari
setelah tanam, saat buah sudah memenuhi criteria panen yaitu ukuran buah sesuai
dengan ukuran normal, serat jala pada kulit buah sangat nyata/kasar, warna
kulit hijau kekuningan, terdapat keretakan pada bagian tangkai buah yang
menempel pada buah dan ciri lainnya yaitu buah beraroma harum. Waktu pemanenan
dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 06.00-08.00 WIB.
3.5. Pengamatan
Variable yang diamati dalam penelitian ini adalah:
3.5.1.
Diameter Batang
Pengamatan diameter batang dilakukan
dengan cara mengukur lingkaran tengah batang pada bagian leher akar dengan
jangka sorong. Diameter batang (cm), diukur pada umur 14, 21, dan 28 hari
setelah tanam pada masing-masing tanaman melon.
3.5.2.
Tinggi Tanaman
Pengamatan tinggi tanaman diukur
dengan cara menguncupkan semua bagian tanamn dan diambil ukuran yang terpanjang
sebagai acuan pengukuran. Tinggi tanaman dihitung pada umur 14, 21, Dan 28 hari
setelah tanam pada masing – masing tanaman melon.
3.5.3.
Jumlah Daun
Pengamatan jumlah daun dilakukan dengan cara menghitung
jumlah seluruh daun yang telah terbuka sempurna. Dihitung sebelum dilakukan
pemangkasan tunas apical (topping). Jumlah daun (helai), dihitung pada umur 14,
21, dan 28 hari setelah tanam pada masing-masing tanaman melon.
3.5.4.
Umur Mulai Berbunga
Pengamatan umur mulai berbunga dilakukan dengan cara
menghitung hari mulai keluarnya bunga pertama. Dihitung dari hari setelah tanam
(HST), hingga mulai keluarnya bunga pertama yang ditunjukkan dengan membukanya
mahkota bunga dengan sempurna pada masing-masing tanaman melon.
3.5.5.
Diameter Buah
Pengamatan diameter buah dilakukan dengan cara mengukur pada
lingkaran tengah buah (cm), dengan menggunakan meteran (penggaris siku-siku),
diukur pada masing-masing buah pada saat panen.
3.5.6.
Berat Buah
Pengamatan berat buah dilakukan dengan cara menimbang berat
buah pertanaman setelah panen dengan timbangan manual. Berat buah (kg),
ditimbang pada masing-masing buah pada saat setelah panen.
3.5.7.
Tebal Daging Buah
Pengamatan tebal daging buah dilakukan dengan cara mengukur
ketebalan daging buah dari batas dengan kulit sampai batas dengan rongga dalam
buah menggunakan jangka sorong. Tebal daging buah (cm) diukur pada
masing-masing buah setelah panen.
3.6. Analisa Data
Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis
ragam (uji F) pada taraf = 1% dan = 5%.
Jika terdapat pengaruh yang nyata pada perlakuan maka dilanjutkan dengan uji
beda rata-rata menggunakan BNJ pada taraf
= 5%.
LAMPIRAN
Lampiran
1.Denah Tata Letak Percobaan.
Keterangan:
S0
= Pupuk Hayati Petrobio 0 ton/ha.
S1
= Pupuk Hayati Petrobio 30 ton/ha.
S2
= Pupuk Hayati Petrobio 60 ton/ha.
|
|
T B
S
Lampiran
2.
Deskripsi Tanaman Melon (Cucumis melo L.) varietas Merlin F1
Uraian
|
Deskripsi
|
Asal
|
PT.
Benih Citra Asia (BCA)
|
GolonganVarietas
|
Hibrida
|
Dianjurkan
|
Dirambatkan
padalanjaran
|
Buah
|
Berbentuk
bulat
|
Warna
buah
|
Oranye
gelap
|
Beratbuah
|
1,5-3
kg
|
Ketahananterhadappenyakit
|
Tahan
penyakit virus Gemini
|
Umurmulaipanen
|
68-70
hst
|
Syarat
tumbuh
|
Dapat
dibudidayakan di dataran rendah dan menengah
|
Harga/beratbersih
|
Rp.
450.000,-/bungkus, isi 550 butir
|
Jadwal
Penelitian
NamaKegiatan
|
Bulan (Minggu ke)
|
|||||||||||||||||||
Oktober 2017
|
November 2017
|
Desember 2017
|
Januari 2018
|
Februari 2018
|
||||||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
Pengusulan Proposal PL
|
||||||||||||||||||||
Persiapan Alat dan Bahan PL
|
||||||||||||||||||||
Persiapan Lahan PL
|
||||||||||||||||||||
Persiapan Media Tanam
|
||||||||||||||||||||
Persemaian Benih Melon
|
||||||||||||||||||||
Penanaman Bibit Melon
|
||||||||||||||||||||
Pemeliharaan Tanaman Melon
|
||||||||||||||||||||
Pemupukan Susulan
|
||||||||||||||||||||
Pengamatan
|
||||||||||||||||||||
Panen
|
||||||||||||||||||||
Pembuatan Laporan PL
|
||||||||||||||||||||
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Pase pertumbuhan Tanaman www. Google. com. diakses pada
Tanggal 22 november 2017.
Agustina, L. 1990. Dasar Nutrisi tanaman. Rhineka Cipta.
Jakarta.
Andrianus,
T. 2015. Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Ayam dan Pupuk Plan.t
Catalyst 2006 terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon (Cucumis melo L.) pada Tanah Berpasir.
Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.
Palangka Raya.
Ramanta.E
Aditya 2008.Pengaruh Efektivitas Pupuk Hayati Petrobio Pada Pertumbuhan dan
Hasil Tanaman Jagung Hibrida (Zea mays L.). J. Var 6 (1): 2-8
Badan Pusat Statistik (BPS). 2015. Statistik
Hortikultura. Kalimantan Tengah.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2016. Statistik
Hortikultura. Kalimantan Tengah.
Lingga dan Marsono 2013. Petunjuk penguna pupuk penebar
swadaya. Jakarta
.
Mukariyah.
2015. Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa) terhadap Pemberian Pupuk Kandang Sapi pada Tanah
Gambut. Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Universitas Muhammadiyah
Palangkaraya. Palangka Raya.
Thoha,
M. 2013. Efektivitas Pemberian Pupuk Organik Cair Kotoran Ayam dan Pengurangan
Jumlah Buah terhadap Hasil Tanaman Melon (Cucumis
melo L.) pada Tanah Gambut.
Trubus. 2011. The Best
Melon. PT. Trubus Swadaya. Jakarta.
Suhaemi. Z .2011. diktat Metode Penelitian dan Rancangan
Percobaan. Program Studi Perternakan Fakultas Pertanian. Universitas Taman
siswa Padang.
Prajnanta, F. 2003. Melon: pemiliharaan secara intensef,
kiat sukses beragribisnis. Penebar swadaya, jakarta.
Rukmana, R. 1994. Budidaya melon Hibrida. Kanasius.
Yogyakarta.
Sugiarto, Y., 2008. Petrokimia Gresik luncurkan pupuk
hayati. [Diakses 24 Februari 2018 pada situs http://www.agrina-online.com.]
Siemonsma, J.S. dan K. Piluek. 1994. Plant Resources of
South East Asia Vegetables. Prosea Foundation. Bogor.
Handayanto, E., 1998. Pengelolaan kesuburan tanah secara
biologi untuk menuju sistem pertanian sustainabel. Habitat 4 (10): 104 – 110.
Wahyuni, S.T., T. Islami, H.T. Sebayang, dan B. Hariyono,
2010. Pengaruh pupuk hayati petrobio dan pupuk N, P, K pada pertumbuhan awal
tanaman jarak pagar (Jatropa curcas L.).[Diakses 24 Februari 2018 pada situshttp://Pustaka_pertanian_ub.staff.ub.ac.id/files/2012/01/jurnal.pdf].
Ritalosari.
http://ritalosari7.blogspot.com/2012/09/definisi-pertanian.html. Diakses pada
tanggal 17 Februari 2018 pukul 10:42 Wib
Mawardi, E., Azwar dan Tambidjo, A., 2001. Potensi dan
Peluang Pemanfaatan Harzeburgite sebagai Amelioran Lahan Gambut. Prosiding
Seminar Nasional Memantapkan Rekayasa Paket Teknologn dan Ketahanan Pangan dalam Era Otonomi Daerah, 31
Oktober – 1 November 2001. Bengkulu.
Anonim,2010. Petrobio. [Diakses 24 Februari 2018 pada
situs http://www.lembahpinus.com].
Hamzah
faisal,at al,2013. Efektifitas pupuk hayati petrobio dan pupuk phonska terhadap
pertumbuhan produksi tanaman jagung.
Komentar
Posting Komentar